Nama: Humara Mahira
NPM: 23216324
Kelas: 1EB04
Dosen: Maulana Syarif Hidayatullah, SEI. MEI
Assalamualaikum
Wr. Wb. Hai semuanya kali ini saya akan berkesempatan untuk menganalisis
Ekonomi Sektor Pertanian di Indonesia bagian strategi pengembangan agribisnis
sebagai suatu keniscayaan, namun sebelum saya mengupas aspek tersebut saya akan
memberikan pengetahuan umum tentang peranan Sektor Pertanian dalam
Perekonomian.
Sektor
Pertanian
Sektor
pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur
pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini merupakan sektor yang tidak
mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa.
Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang
menguntungkan bagi sektor ini. Program-program pembangunan pertanian yang tidak
terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran.
Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan
tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya.
Sektor pertanian merupakan sektor yang
mendapatkan perhatian cukup besar dari pemerintah dikarenakan peranannya yang
sangat penting dalam rangka pembangunan ekonomi jangka panjang maupun dalam
rangka pemulihan ekonomi bangsa.
Peranan
sektor pertanian adalah sebagai sumber penghasil bahan kebutuhan pokok, sandang
dan papan, menyediakan lapangan kerja bagi sebagian besar penduduk, memberikan
sumbangan terhadap pendapatan nasional yang tinggi, memberikan devisa bagi
negara dan mempunyai efek pengganda ekonomi yang tinggi dengan rendahnya
ketergantungan terhadap impor (multiplier effect), yaitu keterkaitan
input-output antar industri, konsumsi dan investasi. Dampak pengganda tersebut
relatif besar, sehingga sektor pertanian layak dijadikan sebagai sektor andalan
dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor pertanian juga dapat menjadi basis
dalam mengembangkan kegiatan ekonomi perdesaan melalui pengembangan usaha
berbasis pertanian yaitu agribisnis dan agroindustri. Dengan pertumbuhan yang
terus positif secara konsisten, sektor pertanian berperan besar dalam menjaga
laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang
dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan
pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami
orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam
(bahasa Inggris: crop cultivation) serta
pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa
pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk
lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekadar ekstraksi semata, seperti
penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Sektor-sektor
yang bergerak lewat pertanian.
Sektor pertanian terdiri atas:
|
||
Tanaman pangan
1. -
Tanaman Palawija
Bi
biasanya palawija berupa tanaman kacang-kacangan, serealia selain padi (seperti jagung), dan umbi-umbian semusim (ketela
pohon dan ubi jalar).
Padi
Keanekaragaman budidaya:
- -
Padi gogo
- -
Padi rawa
|
Beberapa masalah dalam produksi
palawija :
- -
Rendahnya produktivitas lahan.
- -
Rendahnya tingkat penggunaan lahan.
- -
Benih atau bibit masih bersifat lokal.
- -
Pengelolaan yang masih tradisional.
- -
Tingginya tingkat susutan pasca panen.
|
|
2. Perkebunan
- -
Perkebunan rakyat.
- -
Perkebunan besar.
|
Pengusahaan tanaman perkebunan
tersebut berlangsung dualistis, yaitu :
-
Diselenggarakan rakyat secara perorangan.
- Diselenggarakan
oleh perusahaan perkebunan (pemerintah atau swasta).
|
|
3. Kehutanan
SUB SEKTOR KEHUTANAN
-
Penebangan kayu
-
Pengambilan hasil hutan lain
-
Perburuan
|
Hutan berdasarkan tata guna :
1.
Hutan lindung.
2.
Suaka alam dan hutan wisata.
3.
Hutan produksi terbatas.
4.
Hutan produksi tetap.
5.
Hutan produksi yang dapat dikonversi.
|
|
4. Peternakan
|
BPS dalam melakukan perhitungan
produksi pada sektor ini didasarkan pada :
–
- Data pemotongan.
–
- Selisih stok atau perubahan
–
- populasi.
–
- Ekspor netto.
|
|
5. Perikanan
|
Faktor penyebab lambannya
pertumbuhan sub sektor ini :
- Sarana yang kurang
memadai
- Larangan
mengoperasikan pukat harimau (trawl).
- Adanya pencurian ikan
secara besar-besaran oleh kapal asing tanpa berhasil ditangkap oleh satuan
patroli pantai perairan Indonesia.
- Berkaitan dengan perikanan
darat khususnya udang, yaitu rendahnya produktivitas lahan udang.
|
Strategi
Pengembangan Agribisnis Sebagai Suatu Keniscayaan
·
Pendahuluan
Agribisnis sebagai
sebuah sistem dan budaya baru mengelola basis sumber daya alam telah dikenal di
Indonesia sejak akhir 1970-an. Namun, karena esensi utama suatu sistem
agribisnis sebagai keterkaitan seluruh
komponen dan subsistem agribisnis, maka tidaklah mudah untuk merumuskan
suatu strategi pengembangan yang ter integrasi, apalagi dengan faktor eksternal
yang sukar sekali dikendalikan. Perumusan strategi pengembangan agribisnis
menjadi tantangan tersendiri, walaupun segenap pejuang agribisnis telah meyakini
sebagai suatu keniscayaan saja.
·
Esensi
Sistem Agribisnis
Strategi pengembangan
agribisnis bukan semata-mata persoalan manajemen bisnis di tingkat mikro, namum
sangat berkait dengan formasi kebijakan di tingkat makro dan kemampuan
mensiasati dan menemukan terobosan strategi di tingkat entrepreneur. Keterpaduan formasi makro-mikro ini amat diperlukan
mengingat agribisnis adalah suatu rangkaian sistem usaha berbasis pertanian dan
sumberdaya lain, dari hulu sampai hilir. Agribisnis
mencakup subsistem sarana produksi atau bahan baku hulu, proses produksi
biologis di tingkat bisnis atau usaha tani, aktivitas transformasi berbagai
fungsi bentuk (pengolahan), waktu (penyimpanan atau pengawetan), dan tempat
(pergudangan) di tengah, serta pemasaran dan perdagangan di hilir, dan
subsistem pendukung lain seperti jasa, permodalan, perbankan, dan sebagainya.
Memilah-milah suatu sistem agribisnis dalam satuan yang terpisah hanya akan
menimbulkan gangguan serius dalam seluruh rangkaian yang ada.
Sikap resmi pemerintah Indonesia
tentang strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis adalah upaya
sistemik yang dipandang ampuh untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain
a. Menarik
dan mendorong sektor pertanian
b. Menciptakan
struktur perekonomian yang tangguh
c. Menciptakan
nilai tambah
d. Meningkatkan
penerimaan devisa
e. Menciptakan
lapangan kerja
f. Memperbaiki
pembagian pendapatan
Sedang beberapa faktor strategic yang terkait dengan
keandalan tatanan agribisnis dan agroindustri adalah
a. Lingkungan
strategik
b. Tingkat
permintaan
c. Sumberdaya
d. Ilmu
dan teknologi
Dalam prespektif
ketahanan pangan, Garis-garis besar Haluan Negara (GBHN) juga telah mengamanatkan
pemerintah untuk melaksanakan “Pengembangan sistem ketahanan pangan yang
berbasis pada keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan local, dalam
rangka menjamin tersedianya pangan dan nutrisi dalam jumlah dan mutu yang
dibutuhkan, pada tingkat harga yang terjangkau dengan memperhatikan peningkatan
pendapatan petani”. Dari sini muncul strategi bahwa pengembangan ketahanan
pangan perlu diupayakan melalui sistem dan usaha agribisnis di bidang pangan
yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi.
·
Karakter
Komoditas Agribisnis
Beberapa karakteristik
penting komoditas pertanian dan basis sumberdaya alam lain diuraikan sebagai
berikut:
Pertama,
bersifat musiman. Komoditas agribisnis dihasilkan melalui
proses biologis yang sangat bergantung pada iklim dan alam. Karakteristik tersebut
menyebabkan volume produksi berfluktuasi antarmusim, terutama antara musim
panen dan musim tanam (paceklik). Pada musim panen suplai produk melimpah,
sehingga apabila apabila permintaan konstan, maka harga akan turun. Sedangkan pada
musim tanam atau paceklik, suplai produk pertanian amat terbatas, sehingga pada
tingkat permintaan yang konstan, harga akan melambung tinggi.
Kedua,
mudah rusak.Komoditas agribisnis umumnya dihasilkan
dalam bentuk segar yang siap untuk dikonsumsi dan/atau diolah lebih lanjut. Apabila
tidak segera dikonsumsi, maka volume dan mutu produk akan cepat menurun seiring
dengan bertambahnya waktu. Akibatnya, nilai ekonomi komoditas agribisnis cepat
anjlok, bahkan tidak berharga sama sekali, dan menjadi sumber kerugian terbesar
bagi produsen (petani).
Ketiga,
makan tempat atau amba.Komoditas agribisnis umumnya
bermassa besar dan makan tempat alias amba, walaupun mungkin bobotnya ringan. Subsistem
pemasaran dalam agribisnis amat bergantung pada kepiawaian pelaku ekonomi dalam
mengelola karakteristik amba ini. Dalam subsistem agribisnis, aktivitas
transportasi dan penyimpanan bahkan dapat menjadi amat krusial dalam menentukan
tingkat kesejahteraan seluruh pelaku agribisnis. Apabila pelaku ekonomi tidak
memiliki akses dan tidak mampu menggapai biaya-biaya dalam subsistem
transportasi dan penyimpanan tersebut, maka aktivitas pemasaran menjadi tidak
efisien dan tidak membawa manfaat bagi pengembangan agribisnis selanjutnya.
Keempat,
amat beragam.Volume dan mutu komoditas agribisnis
amat beragam antarwaktu dan antardaerah atau antarsentra produksi. Faktor genetic
dan faktor lingkungan mungkin amat menonjolon dalam keberagaman tersebut. Akan tetapi,
faktor penguasaan teknologi juga turut menentukan tingkat keberagaman volume
dan mutu produk pertanian di beberapa tempat dan waktu tertentu. Karakteristik ini
sangat menentukan besarnya biaya transaksi yang meliputi biaya informasi, biaya
negosiasi, dan pengamanan kontrak. Semakin besar variabilitas dalam mutu dan
produk, maka akan semakin mahal dan sukar terjangkau para pelaku ekonomi.
Kelima,
transmisi harga rendah. Komoditas agribisnis memiliki
elastisitas transmisi harga yang rendah dan kadang searah. Kenaikan harga
komoditas agribisnis di tingkat konsumen tidak serta-merta dapat meningkatkan
harga di tingkat petani produsen. Namun sebaliknya, penurunan harga di tingkat
konsumen umumnya lebih cepat di transmisikan kepada harga ditingkat pertanian
produsen.
Keenam,
struktur pasar monopsonis. Komoditas agribisnis umumnya harus
menghadapi struktur pasar yang monopsis dan jau dari prinsip-prinsip persaingan
usaha yang sehat. Petani produsen senantiasa dihadapkan dengan kekuatan
pembeli, yang terdiri dari pedagang pengumpul dan pedagang besar, yang cukup
besar dan membentuk satu kekuasaan yang dapat “menentukan”harga beli. Ketidakmampuan
petani produsen dan kepiawaian pelaku pemasaran lain dalam menguasai asset dan
akses ekonomi dalam proses produksi dan pemasaran komoditas agribisnis
merupakan salah satu faktor ekonomi yang terpenting.
·
Kesimpulan
Meskipun menurut para
pejuang agribisnis telah meyakini bahwa strategi pengembangan agribisnis hanya
suatu keniscayaan saja, hal ini dapat dipertimbangkan apabila para pelaku
agribisnis dan petani mengerti arti berdaya saing, bahwa bahan pangan harus
memenuhi kaidah-kaidah efisiensi, sehingga usaha agribisnis pangan mampu
meningkatkan pendapatan petani/peternak/nelayan produsen, yang sekaligus juga
terjangkau oleh konsumen. Dan juga para pelaku agribisnis dan petani harus
memperhatikan betul tiap-tiap karakteristik komoditas agribisnis satu per satu
agar dapat memajukan ekonomi Indonesia di sektor pertanian ini.
Daftar
Pustaka:
Website: https://www.academia.edu/24620572/PERAN_SEKTOR_PERTANIAN_DALAM_PEMBANGUNAN_EKONOMI_DI_INDONESIA
Buku:
DR. Bustanul Arifin (2004); Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia; Penerbit buku Kompas, Jakarta.